Islam Web

Artikel

  1. Home
  2. Artikel

Keadaan Mayat di Atas Keranda

Keadaan Mayat di Atas Keranda

Iman kepada Allah Ta'ala, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, serta takdir yang baik maupun yang buruk, adalah enam rukun iman yang disebutkan oleh Nabi  may  Allaah  exalt  his  mention dalam hadisnya yang masyhur saat menjelaskan makna Iman, Islam, dan Ihsan. Beliau  may  Allaah  exalt  his  mention bersabda dalam mendefinisikan Iman: “Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk”. [HR. Muslim].

Kehidupan Barzakh yang dimulai dengan kematian dan perpisahan ruh dari jasad adalah perkara yang wajib diimani dan dipasrahkan oleh setiap Muslim sesuai dengan apa yang dikabarkan oleh Nabi kita baik mengenai nikmat maupun azab di dalamnya. Ini merupakan konsekuensi dari syahadat bahwa beliau adalah utusan Allah. Allah Ta'ala berfirman: “Dan tidaklah yang diucapkannya itu (Al-Qur'an) menurut keinginannya. Tidak lain (Al-Qur'an itu) adalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” [QS. An-Najm: 3-4].

As-Sa'di menjelaskan: “{Dan tidaklah yang diucapkannya itu menurut keinginannya} maksudnya ucapannya bukan berasal dari hawa nafsunya. {Tidak lain adalah wahyu yang diwahyukan} maksudnya beliau tidak mengikuti kecuali apa yang Allah wahyukan kepadanya berupa petunjuk dan ketakwaan. Ini menunjukkan bahwa Sunnah adalah wahyu dari Allah kepada Rasul-Nya.”

Kabar Gaib Saat Jenazah Dipikul

Salah satu perkara gaib yang dikabarkan Nabi  may  Allaah  exalt  his  mention adalah kondisi manusia setelah wafat: Apabila jenazah telah diletakkan lalu dipikul oleh orang-orang lelaki di atas bahu mereka, jika jenazah itu termasuk ahli iman dan amal saleh, ia akan berkata: "Segerakanlah aku! Segerakanlah aku!". Hal itu karena kegembiraannya melihat kabar gembira dan nikmat yang menantinya.

Namun, jika jenazah itu tidak saleh, ia akan mencela dirinya sendiri dengan kesengsaraan dan berkata: "Aduhai celakanya! Ke mana mereka akan membawanya?". Hal itu karena kengerian dari azab yang dilihatnya sedang menantinya. Suaranya didengar oleh seluruh makhluk baik hewan maupun benda mati kecuali manusia. Seandainya manusia mendengarnya, niscaya ia akan pingsan atau mati karena dahsyatnya suara tersebut.

Dari Abu Sa'id al-Khudri radhiyallahu 'anhu, Nabi  may  Allaah  exalt  his  mention bersabda: "Apabila jenazah telah diletakkan lalu dipikul oleh orang-orang lelaki di atas bahu mereka, jika jenazah itu saleh, ia berkata: 'Segerakanlah aku, segerakanlah aku'. Namun jika tidak saleh, ia berkata: 'Aduhai celakanya, ke mana mereka akan membawanya?'. Suaranya didengar oleh segala sesuatu kecuali manusia, dan seandainya manusia mendengarnya, niscaya ia akan pingsan (mati)." [HR. Bukhari].

Penjelasan Para Ulama (Syarah Hadis)

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari: "Mengenai sabda Nabi: (Apabila jenazah diletakkan), dalam riwayat lain disebutkan: (Apabila mayat diletakkan di atas ranjang/keranda). Ini menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan "jenazah" adalah si mayat itu sendiri. Sebelumnya telah dijelaskan bahwa istilah ini bisa merujuk pada mayat maupun ranjang tempat memikulnya. Kalimat (Apabila jenazah diletakkan) bisa berarti mayat itu sendiri yang diletakkan di keranda, atau keranda yang diletakkan di atas bahu. Namun, pendapat pertama lebih kuat karena kalimat selanjutnya berbunyi: (Maka jika ia saleh, ia berkata), di mana kata ganti "ia" merujuk pada mayat. Hal ini didukung oleh riwayat Abdurrahman bin Mehran dari Abu Hurairah dengan redaksi: (Apabila orang mukmin diletakkan di atas kerandanya, ia berkata: "Segerakanlah aku"). Secara lahiriah, yang berbicara adalah jasad yang sedang dipikul di atas bahu tersebut".

Al-'Aini dalam Umdatul Qari (Syarah Shahih Bukhari): "Sabda Nabi: (Apabila jenazah diletakkan) bermakna mayat diletakkan di atas tandu/keranda. Kalimat (Ya wailaha/Aduhai celakanya) bermakna: "Wahai kesedihanku, datanglah! Inilah saatmu." Secara kaidah bahasa seharusnya ia berkata (Ya waili/Aduhai celakaku), namun ia menggunakan kata ganti orang ketiga (-ha/nya) karena ketika melihat dirinya tidak saleh, ia merasa jijik/asing sehingga seolah-olah ia berbicara tentang orang lain, karena ia benci menyandarkan kecelakaan pada dirinya sendiri. Kata (Lasha'iqa) berarti manusia akan pingsan karena mendengar suara yang sangat dahsyat, bahkan bisa mati. Ibnu Baththal berkata: (Segerakanlah aku) maksudnya segerakan menuju amal saleh yang telah dikerjakan, yaitu menuju pahalanya. Kata (Mendengar) menunjukkan bahwa ucapan mayat ini adalah hakiki (nyata) bukan kiasan, karena Allah mampu menciptakan kemampuan berbicara pada mayat kapan pun Dia berkehendak".

As-Suyuthi dalam Hasyiyah as-Sindi 'ala Sunan an-Nasa'i: "Sabda Nabi: (Sekiranya manusia mendengarnya, niscaya ia akan pingsan) maksudnya pingsan karena dahsyatnya suara teriakan celaka dari mayat yang tidak saleh. Ibnu Buzaizah berkata: "Hal ini (pingsan) khusus bagi suara mayat yang tidak saleh. Adapun mayat saleh, ucapannya penuh kelembutan sehingga tidak menyebabkan orang pingsan." Namun, Al-Hafiz Ibnu Hajar berpendapat: "Ada kemungkinan pingsan juga terjadi saat mendengar suara mayat saleh karena suara tersebut sangat tidak lazim (asing) bagi pendengaran manusia."

Al-Harawi dalam Mirqat al-Mafatih: "Sabda Nabi: (Jika ia saleh, ia berkata) bisa bermakna melalui lisan keadaan (lisanul hal) atau lisan ucapan yang nyata (lisanul maqal). Ucapan (Segerakanlah aku) berarti "Cepatlah bawa aku ke rumahku (di kubur)" karena ia telah melihat derajat yang tinggi di surga. Al-Thibi berkata: "Ia enggan menyandarkan kehancuran pada dirinya sendiri." Efek (Lasha'iqa/pingsan) menunjukkan hikmah mengapa manusia tidak diizinkan mendengar suara tersebut: agar tatanan dunia tidak hancur dan agar iman tetap bersifat gaib (percaya tanpa melihat), bukan syuhudi (percaya karena menyaksikan langsung)".

Al-Qasthalani dalam Irsyad as-Sari: "(Jika ia saleh, ia berkata) secara ucapan yang nyata: (Segerakanlah aku) menuju pahala amal saleh yang telah kulakukan".

Ibnu Raslan al-Maqdisi dalam Syarah Sunan Abi Daud: "Hadis ini dalil bahwa mayat berbicara di atas keranda. Sabda Nabi: (Suaranya didengar oleh segala sesuatu) membuktikan bahwa ucapan tersebut adalah kenyataan (hakiki) bukan majas. Allah memberikan kemampuan bicara pada mayat. Namun, kemungkinan besar yang berbicara adalah ruh jenazah tersebut, karena jasad tidak bicara setelah ruh keluar kecuali jika Allah mengembalikannya. Ruh didengar oleh makhluk yang sejenis dengannya, yaitu malaikat dan jin".

Al-Kirmani dalam Al-Kawakib ad-Darari: "Menjelaskan bahwa secara bahasa, Janazah (dengan fathah) berarti mayat, dan Jinazah (dengan kasrah) berarti keranda. Beliau menegaskan bahwa hanya laki-laki yang memikul keranda—meskipun mayatnya perempuan—karena mereka lebih kuat, sementara perempuan secara fisik lebih lemah".

Syaikh Ibnu Utsaimin dalam Syarah Riyadhus Shalihin: "Ucapan (Segerakanlah aku) diucapkan dengan suara yang didengar oleh segala sesuatu kecuali manusia. Ini adalah nikmat dari Allah. Jika kita mendengar apa yang dikatakan mayat di atas keranda, kita akan sangat terguncang dan ketakutan. Binatang ternak mendengarnya. Mayat saleh minta disegerakan menuju nikmat kubur yang telah dijanjikan saat sakaratul maut. Sedangkan yang tidak saleh berteriak "Aduhai celaka" karena ia akan dihadapkan pada azab kubur yang menyempit hingga tulang rusuknya saling bersilangan. Merupakan rahmat Allah bahwa suara ini disembunyikan dari kita; jika kita mendengarnya, niscaya kita tidak akan pernah sudi menguburkan jenazah satu sama lain karena ketakutan yang luar biasa"

Faidah Hadis dan Kesimpulan

1- Penyingkapan Kedudukan: Allah memperlihatkan kepada hamba-Nya tempat tinggal mereka (surga/neraka) saat sakaratul maut dan setelah wafat.

2- Kerinduan Orang Saleh: Mayat yang saleh merasa rindu pada kemuliaan yang disiapkan baginya sehingga ia meminta agar dipercepat proses penguburannya.

3- Kengerian Orang Fasik: Orang kafir atau fasik merasa ngeri terhadap azab yang ia lihat di depan matanya.

4- Mukjizat Nabawi: Kabar bahwa makhluk lain mendengar suara yang tidak bisa didengar manusia adalah mukjizat, yang mana sains modern pun mengakui adanya frekuensi suara yang melampaui pendengaran manusia.

5- Pentingnya Persiapan: Ibnu al-Qayyim mengingatkan bahwa siapa yang menyibukkan diri dengan Allah saat hidup, ia akan merasakan kemudahan saat ruhnya keluar. Namun, siapa yang sibuk dengan selain Allah, akan sulit baginya untuk hadir bersama Allah saat maut menjemput.

Kehidupan Barzakh adalah periode transisi bagi setiap manusia. Kegembiraan setelah mati bagi orang mukmin seharusnya memotivasi kita untuk menjaga shalat dan menjauhi kemaksiatan agar kita bisa meraih kegembiraan tersebut.

Semoga Allah membantu kita untuk senantiasa mengingat-Nya, bersyukur kepada-Nya, dan beribadah dengan baik kepada-Nya.

Artikel Terkait